Hutan & lahanKakao, Hutan & Penghidupan
Program 12 bulan bersama keluarga petani kakao: pelatihan, coaching, pelatih lokal, dan kebun contoh agroforestri di desa yang berbatasan dengan hutan.
Merawat kopi di bawah naungan hutan, memetik buah merah saja, dan menanam pangan di lahan keluarga. Sasaran program: 200 rumah tangga petani kopi.

Banyak kopi di Bajawa tumbuh di bawah tajuk hutan dengan kerapatan rendah dan perawatan terbatas. Pemangkasan jarang dilakukan, buah merah dan hijau sering dipetik bersamaan, dan sebagian lahan pertanian keluarga belum dimanfaatkan. Agar hutan tetap dijaga, hutan yang berdiri perlu memberi alasan ekonomi, pangan, dan budaya bagi keluarga.
Meningkatkan mutu dan hasil kopi yang sudah ada tanpa membuka hutan, sekaligus menambah ragam pangan keluarga dari lahan pertanian yang sah.
200 rumah tangga petani kopi sebagai sasaran program, dengan sedikitnya 25 peserta perempuan, serta 30 rumah tangga perintis kebun pangan.
Kebutuhan, desa, dan lokasi dikonfirmasi bersama petani, perempuan, tokoh adat, dan pemilik lahan.
Praktik di kebun petani mengikuti musim: pangkas, rawat tanah, amati hama, lalu panen.
30 rumah tangga menyusun rencana kebun pangan; dua kebun belajar menjadi tempat praktik bersama.
Pengalaman 200 rumah tangga menjadi dasar fase berikutnya bila lahan, pendanaan, dan kapasitas pasar memungkinkan.
Daftar ini menunjukkan hal yang dinilai selama program, bukan capaian yang sudah terverifikasi. Hasil dilaporkan setelah pelaksanaan dan pemeriksaan.


Hutan & lahanProgram 12 bulan bersama keluarga petani kakao: pelatihan, coaching, pelatih lokal, dan kebun contoh agroforestri di desa yang berbatasan dengan hutan.
Hutan & lahanKomunitas sekitar hutan memperoleh penghasilan dari rotan manau, madu, nira aren, dan hasil hutan bukan kayu lain, lalu menyepakati aturan untuk menjaga hutan dan mata air.
Ceritakan tujuan dan wilayahnya. Kami akan menyiapkan pertanyaan awal untuk asesmen dan pembagian peran.